GarutUpdate
Kembali ke Beranda
Berita

Kisah Warga Kampung Pelag Bakal Diabadikan Lewat Buku

Oleh Admin GarutUpdate|5 Juni 2026|2 menit baca0 dilihat
#Berita Garut#Indonesia Power#Janur M Bagus#Kampung Pelag
Kisah Warga Kampung Pelag Bakal Diabadikan Lewat Buku

Garut - Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Kamojang menggelar FGD sebagai rangkaian penyusunan buku dengan tema 'Kampung Pelag: Literasi yang Mengubah Wajah Desa'. Kegiatan ini...

Garut - Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Kamojang menggelar FGD sebagai rangkaian penyusunan buku dengan tema 'Kampung Pelag: Literasi yang Mengubah Wajah Desa'. Kegiatan ini dilaksanakan di Kafe Pelag, Kecamatan Tarogong Kaler, Kab. Garut belum lama ini. Buku tersebut menjadi dokumentasi perjalanan transformasi sosial, ekonomi dan budaya Kampung Pelag melalui program CSR perusahaan sejak 2011. Kegiatan tersebut dihadiri tokoh masyarakat, akademisi, hingga perwakilan pemerintah dengan membahas konsep, konten dan arah penerbitan buku agar menjadi referensi publik, sekaligus bukti nyata keberhasilan pemberdayaan masyarakat berbasis literasi. Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Totong menuturkan, kisah Kampung Pelag layak menjadi bagian dari Memori Kolektif Daerah bahkan Memori Kolektif Bangsa. "Perjalanan Pelag dari kampung dengan mayoritas warga buta huruf menjadi kampung literasi adalah aset bersejarah. Buku ini akan kami kawal dan sebarkan melalui jaringan perpustakaan daerah agar menjadi sumber inspirasi," kata Totong. Totong mendorong buku ini dilengkapi arsip foto dan video sehingga bisa menjadi bahan pameran literasi dan edukasi publik di masa depan. Akademisi dari Uniga, Ridwan Mustopa menuturkan, pentingnya menggambarkan kondisi sebelum dan sesudah secara jelas. Menurutnya, penelitian tentang Pelag selama ini terbatas pada tema kopi dan CSR. Sementara sisi sosial-budaya belum terjamah. "Buku ini harus menunjukkan Pelag sebelum program CSR masuk. Lalu, kondisi terkini. Mau pahit atau manis, harus digambarkan. Ini akan memperkuat nilai dokumentasi dan pembelajaran," katanya. Tokoh masyarakat Pelag, Kuswana mengatakan, pada tahun 2010, sekitar 80 persen warga Pelag buta huruf. Melalui intervensi Indonesia Power, lahir Rumah Pintar dan program pengembangan ekonomi. Termasuk kopi Arabika Java Preanger dan produk turunan seperti pupuk organik. "Dulu memang nyaris tidak dikenal. Bahkan ada penolakan saat data buta huruf muncul. Tapi, itu jadi titik balik. Sekarang sudah asa SMP, ada sarjana, dan warga bisa mandiri," katanya. Penulis buku Janur M. Bagus menjelaskan, FGD ini menjadi tahap penting sebelum finalisasi naskah buku yang direncanakan terbit dengan tebal 150 halaman, dengan memuat foto, data dan kisah di lapangan. Janur berharap buku ini tidak hanya mengabadikan sejarah, tapi bisa memotivasi desa lainnya, untuk mengembangkan potensi warga, melalui pendidikan dan pemberdayaan berkelanjutan. “Bukunya nanti akan menjadi dokumentasi resmi perjalanan Kampung Pelag, sekaligus model praktik baik CSR berbasis literasi dan inklusi sosial.”ujar Janur. ****

Artikel Terkait